Jumat, 08 Oktober 2010

Sintaksis Menurut Para Ahli

SINTAKSIS
Oleh : Abdul Chaer

A. Defenisi Sintaksis
            Secara etimologi sintaksis berasal dari bahasa yunani, yaitu sun yang berarti  “dengan” dan tattein yang berarti “menempatkan”. Jadi, secara etimologi istilah sintaksis yaitu: menempatkan bersama-sama pada kata-kata menjadi kelompok kata (kalimat).
            Jadi, secara umum pengertian sintaksis adalah salah satu ccabang linguistic yang menelaah hubungan antara unsur- unsur struktur kalimat dan kaidah-kaidah yang menguasai pengaturan kalimat dalam kata-kata.

II. struktur sintaksis
            Secara umum struktur sintaksis itu terdiri dari susunan subjek (s), prediket (p), objek (o), dan keterangan yang disebut sebagai fungsi sintaksis. Sedangkan yang terdiri dari nomina, verba, ajektiva, dan numeralia merupakan kategori sintaksis. Lalu, jika terdiri dari pelaku, penderita, dan penerima merupakan peran sintaksis.

1. fungsi sintaksis
            Fungsi sintaksis terdiri atas unsur-unsur S,P,O, dan K. amatilah contoh berikut.

“Nenek melirik kakek pagi tadi”

            Jadi, susunan dari kalimat diatas yaitu nenek sebagai subjek yang aktif. Melirik sebagai prediket. Kakek sebagai penderita (objek) yang pasif. Pagi tadi sebagai keterangan waktu.

2. Kategori sintaksis
            Kategori sintaksis terdiri atas nomina, verba, ajektiva, dan numeralia. Dengan memperhatikan contoh yang terdapat diatas, maka dapat dinyatakan bahwa kata nenek berkategori nomina, sedangkan kata melirik berkategori verba. Lalu, kata kakek dan pagi tadi sama-sama berkategoro nomina.

3. Peran Sintaksis
            Peran sintaksis terdiri atas pelaku, penderita, penerima. Berdasarkan contoh sebelumnya, maka kata nenek berperan sebagai pelaku (agentif). Lalu, kata melirik memiliki peran aktif, kakek sebagai sasaran, dan tadi pagi sebagai peran waktu.

Catatan: apabila kalimat tersebut dipasifkan, maka yang merupakan fungsi (S) adalah kakek, sedangkan fungsi (O) adalah nenek.

            Dalam suatu kalimat ataupuun wacana, keempat fungsi itu tidak harus selalu harus ada dalam setiap struktur sintaksis. Namun, jika fungsi S dan P terdapat dalam suatu kalimat, maka hal tersebut dapat dikatakan sebagai struktur kalimat. Oleh karena itu, perlu di ingat bahwa suatu kalimat apabila tidak ditemukan fungsi subjek dan prediket, maka belum dapat disebut sebagai sebuah struktur sintaksis.

Perhatika kalimat berikut ini!
(1)   rambutan ayah belum memerah
(2)   nenek membersihkan dapur

Verba merah merupakan verba intransitif. Verba intransitif yaitu verba yang tidak memerlukan munculnya suatu objek. Sedangkan verba membersihkan pada kalimat (2) adalah verba transitif, yang memang diharuskan munculnya sebuah objek.

            Namun, dalam bahasa Indonesia ada sejumlah verba transitif yang objeknya tidak perlu ada. Perhatikan contoh berikut.

(1)   pembantu itu sedang mengepel
(2)   pembalap itu sangat mengecewakan

Verba pada kalimat (1) merupakan sebuah pekerjaan yang dapat dilakukan oleh seorang pembantu yaitu mengepel rumah seorang majikan. Sedangkan verba pada kalimat (2) menyatakan bahwa pelakunya atau orang yang mengalaminya adalah orang pertama, saya atau orang pada umumnya. Suatu fungsi sintaksis menyatakan hadir tidaknya tergantung pada konteks.
            Fungsi-fungsi sintaksis ada kalanya juga di isi oleh kategori-kategori tertentu.
Perhatikan contoh berikut ini.

(1) berenang menyehatkan tubuh
(2) membaca dapat tujuh dan menulis hanya dapat enam

            Pada kalimat (1) yang menyehatkan bukanlah berenangnya, melainkan perbuatan atau pekerjaan berenang itu. Jadi, subjeknya masih berupa nomina. Begitu juga dengan kata membaca pada kalimat (2) yang mendapat nilai tujuh adalah ujiannya, bukan membacanya. Sehingga membaca tetap sebagai verba. Sedangkan ujian membaca sebagai nomina.
            Adapun peran-peran yang ada disetiap struktur sintaksis. Perhatikan contoh berikut!

(1)   nenek menghitamkan rambutnya
(2)   rambutnya itu dihitamkannya
(3)   kulitnya mulai menghitam
(4)   rambutnya sangat hitam

            Pada kalimat (1) kata menghitamkan dapat memberikan peranan yang aktif. Pada kalimat (2) kata dihitamkan berperan pasif peran proses terdapat pada kalimat (3), pada kata menghitam. Peran keadaan ditunjukkan pada kalimat (4) pada kata hitam.
           
            Eksitensi struktur sintaksis juga ditopang oleh 3 bentuk yaitu:
a. urutan kata
            merupakan letak atau posisi kata yang satu dengan kata yang laindalam suatu kontruksi sintaksis. Perubahan kata inilah yang menyebabkan terjadinya perubahan makna gramatikal tersebut. Perhatikan contoh berikut!

(1)   adik membaca komik selama tiga jam
(2)   paman tiba di Bandung sekitar jam tiga

            pada kata tiga jam mengandung makna bahwa pekerjaan membaca merupakan suatu lamanya melakukan pekerjaan itu. Sedangkan kata jam tiga mengandung makna bahwa pekerjaan terssebut dilakukan pada waktu jam tiga.
            Namun, dalam bahasa Indonesia dapat dipindahkan tempatnya tanpa mengubah makna gramatikal kalimat tersebut. Perhatikan contoh berikut ini!

(1)   pagi tadi nenek melirik kakek
(2)   nenek melirik kakek pagi tadi

b. bentuk kata
            Bentuk kata dalam bahasa Indonesia terdiri atas kata konturksi genetif. Contohnya sebagai berikut.

Buku saya – milik saya
Bukunya   _  milik dia
Bukumu    _ buku anda

c. Intonasi
            intonasi merupakan tekanan yang diberikan makna dalam konteks melalui jeda.
Contohnya:

Kucing/ makan tikus mati
Kucing makan tikus/ mati
Kucing/makan// tikus mati

            Alat sintaksis yang keempat adalah konektor. Konektor berfungsi menghubungkan satu konstituen dengan konstituen yang lain. Baik yang berada dalam kalimat maupun yang berada dalam luar kalimat.
            Konektor terdiri atas dua, yaitu:
a. konektor koordinatif
            menghubungkan dua buah konstituen yang sama kedudukannya (sederajat).

b. konektor subordinatif
            menghubungkan dua buah konstituen yang berbeda kedudukannya.
Berikut contoh paparan dalam kalimat.

(1)   nenek dan kakek pulang ke kampung
(2)   dia atau anda yang mencuri?
(3)   Kalau diundang, saya tentu akan datang
(4)   Dia pergi juga meskipun hari hujan


Pada konektor kalimat (1) dan (2) adalah konektor koordinatif. Sedangkan pada kalimat (3) dan (4) merupakan konektor subordinatif. Namun, pada konektor karena pada kalimat (5) boleh ditanggalkan ataupun tidak.


II Satuan Sintaksis

1. Frase
            Frase didefenisikan sebagai suatu gramatikal yang berupa gabungan kata yang mengisi salah satu fungsi sintaksis di dalam kalimat.

1.2 Jenis Frase
            Adapun jenis-jenis frase di dalam bahasa Indonesia, yaitu:

A. Frase Eksosentris
            Frase yang komponen-komponennya tidak mempunyai prilaku sintaksis yang sama dengan keseluruhannya.

Contoh: dia berdagang di pasar

            Frase endosentrik terbagi lagi atas dua, yaitu:
-          Direktif, seperti di-, ke-, dari
-          Non direktif, seperti sang, si, para

B. Frase Endosentrik
            Frase yang salah satu unsurnya (komponennya) memiliki prilaku sintaksis yang sama dengan keseluruhannya.

Contoh:
(1a) ayah sedang membaca koran di kantor
(1b) ayah membaca koran di kantor

Catatan: frase endosentrik dapat juga berupa frase nomina,verba, ajektiva, numeral.

C. Frase Koordinatif
            Frase yang komponen pembentuknya terdiri atas dua komponen atau lebih yang sederajat.

Contoh: dan, atau, tetapi, baik…baik, baik… maupun, makin… makin.

D. Frase Apositif
            Frase koordinatif yang kedua komponennya saling merujuk sesamanya, yang dapat dipertukarkan.

Contoh:
(1)   pak budi, bapak saya, rajin sekali
(2)   bapak saya, pak budi, rajin sekali
(3)   soeharto, presiden kedua RI, telah tiada
(4)   Adolf Hitler, berpaha NAZI, sangat otoriter

1.3 Perluasan Frase
            Pemberian komponen baru sesuai dengan konsep atau pengertian yang akan ditampilkan.
            Adapun faktor yang mempengaruhi perluasan frase tersebut, yaitu:
  1. faktor induktif
merupakan rangkaian frase yang diawali dari kata umum ke khusus.

Contoh:

Kereta
Kereta api
Kereta api ekspres
Kereta api ekspres siang

            Namun, ada kalanya juga ditambahkan kata yang ditulis sebelum kata dasarnya.
     
  1. faktor produktif
terdiri atas kala, modalitas, aspek, jenis, jumlah, ingkar, dan pembatas.

Contoh:
(1)   tidak akan hadir (ingkar)
(2)   sudah akan hadir (kala)


2. KLAUSA
            Klausa merupakan satuan sintaksis berupa runtunan kata-kata berkontruksi predikat.
Perhatikan contoh dalam kalimat berikut ini

(1)   ayah sedang mandi di belakang
(2)   dia kemarin mencuci di kamar mandi

Pada kata sedang mandi berfungsi sebagai prediket. Sedangkan pada kata kamar mandi berfungsi sebagai tempat.

2.1 Jenis Klausa
            Berdasarkan strukturnya, klausa dapat dibedakan adanya klausa bebas dan klausa terikat. Klausa bebas adalah klausa yang mempunyai unsur- unsur lengkapatau sekurang-kurangnya memiliki dua fungsi sintaksis. Sedangkan klausa terikat adalah klausa yang hanya memiliki satu fungsi sintaksis.

Perhatikan kalimat berikut!
(1)   nenek bermain bola (klausa bebas)
(2)   pagi tadi (klausa terikat)
(3)   besok malam (klausa terikat)
(4)   kakek berlayar (klausa bebas)

Berdasarkan kategori unsur segmentalnya, klausa terdiri atas:
-verbal
-nominal
-ajektifal
-adverbial
-preposisional

            Klausa juga terdiri atas klausa berpusat dan klausa tidak berpusat. Klausa berpusat adalah klausa yang subjeknya terikat di dalam prediketnya, meskipun kadang berfungsi sebagai nomina.

Contoh:
(1) saya membaca Qur’an (aqra ul qur’an Ana aqra ul quran)
(2) saya sudah cinta (Amavi, ego Amavi)


3.KALIMAT
            Secara umum, pengertian kalimat yaitu susunan kata-kata yang teratur yang berisikan pikiran yang lengkap. Berdasarkan pengertian sintaksis, kalimat adalah satuan sintaksis yang disusun dari konstituen dasar, yang biasanya berupa klausa, konjungsi, serta intonasi.

3.1 Jenis Kalimat
            Terdiri atas:
a. kalimat inti dan kalimat non- inti
            jika dibagankan menjadi:

KALIMAT INTI  + PROSES TRANSPORMASI =  KALIMAT NON- INTI

Perhatikan kalimat berikut !

-nenek datang
+ nenekku baru datang dari medan
+ nenek si Dian tidak akan datang karena sedang sakit demam
+ nenekku yang pikun pasti akan datang di pesta ini
= apakah nenekmu yang datang kesini pagi tadi ?

b. kalimat tunggal dan kalimat majemuk
            kalimat tunggal adalah kalimat yang berklausa satu.
Contohnya: -nenekku masih cantik

            Kalimat majemuk adalah kalimat yang terdiri atas lebih satu klausa. Kalimat majemuk dapat dibedakan atas kalimat majemuk koordinatif (setara), subordinatif (bertingkat), kompleks.
            Kalimat majemuk koordinatif adalah kalimat najemuk yang klausa-klausanya memiliki status yang sama. Perhatikan kalimat berikut.

-nenek melirik, kakek tersenyum, dan adik tertawa- tawa

            Kalimat majemuk subordinatif adalah kalimat majemuk yang terdiri atas tiga klausa yang dihubungkan secara koordinatif dan subordinatif. Perhatikan kalimat berikut ini.
“nenek membaca komik karena kakek tidak ada di rumah, dan tidak ada pekerjaan lain yang harus diselesaikan”

            Kalimat tersebut terdiri atas tiga klausa, yaitu:
(1)   nenek membaca komik
(2)   kakek tidak ada di rumah
(3)   tidak ada pekerjaan lain yang harus diselesaikan

catatan: S,P,O terdapat pada klausa pertama (subordinatif)
             K terdapat pada klausa kedua dan ketiga (koordinatif)

c. kalimat mayor dan kalimat minor
            kalimat mayor adalah kalimat yang sekurang-kurangnya memiliki unsur subjek dan unsur prediket.

“nenek berlari pagi”

            Kalimat minor adalah kalimat yang hanya memiliki satu fungsi sintaksis saja.

“sedang makan”
“dilarang merokok”

d. kalimat verbal dan kalimat non- verbal
            kalimat verbal adalah kalimat yang dibentuk dari dari klausa verbal yang yang prediketnya berupa kata (frase). Sedangkan kalimat non-verbal adalah kalimat yang prediketnya bukan kata verbal. Kalimat non-verbal terdiri atas:

-kalimat transitif
-kalimat intransitif
-kalimat aktif dan pasif
-kalimat dinamis dan statis
-kalimat reflektif
-kalimat resiprokal
-kalimat ekuatif

e. kalimat bebas dan kalimat terikat
            kalimat bebas adalah kalimat yang memiliki potensi untuk menjadi ujuran yang lengkap atau dapat juga memulai suatu paragraph atau wacana tanpa bentukan konteks yang menjelaskannya. Sedangkan kalimat terikat adalah kalimat kalimat yang tidak dapat berdiri sendiri sebagai ujaran lengkap tanpa bantuan konteks.
Berikut penggalan konteks dalam kalimat

            Sekarang di Medan sangat sukar mencari kerbau(1) jangankan dagingnya, bibitnya pun sangat sukar diperoleh(2) kalaupun bisa diperoleh, harganya melambung tinggi(3) makanya, adanya kecemasan masyarakat peternak disana bahwa yang spesifik itu akan punah(4)

            Kalimat (1) pada konteks diatas adalah contoh kalimat bebas. Sedangkan pada kalimat (2),(3),dan (4) merupakan kalimat terikat. Bukti keterikatannya karena adanya anaforis –nya yang menandakan kesimpulan terhadap isi kalimat-kalimat sebelumnya.

3.2 Intonasi kalimat
            Intonasi kalimat juga tergantung pada konteks serta penekanan terhadap suatu klausa.
Perhatikan contoh berikut di bawah ini.

(1)   rumah sekarang mahal
2   33n /2      33n 2  31t #
      (2) bacalah buku   itu!
            2 – 321t / 211t      #

Keterangan: n= naik
                     t= turun
                    1= biasa
                    2= sedang
                    3= tinggi























SINTAKSIS I
Oleh: Goris Keraf

Pendahuluan
Sintaksis (Yunani:  Sun + Tattein= mengatur bersama-sama) adalah bagian dari tatabahasa yang mempelajari dasar-dasar dan proses-proses pembentukkan kalimat dalam suatu bahasa. Penelitian bidang fonetis, morfologis dan struktur frasa dari suatu bahasa merupakan bagian dari ilmu bahasa yang masih bersifat statis. Dalam sintaksis bidang-bidang statis seolah-olah digerakkan dan dihidupkan ke dalam kesatuan gerak yang dinamis, diikat dan dijalin ke dalam berbagai macam konstruksi.
            Setiap bahasa mempunyai sistem-sistem yang khusus untuk mengikat kata-kata atau kelompok-kelompok kata ke dalam suatu gerak  yang dinamis. Sebab itu tidak dapa dibenarkan untuk menyusun tatakalimat suatu bahasa dengan menerapkan begitu saja sintaksis bahasa lain, seperti yang dilakukan oleh ahli-ahli Tatabahasa lama. Tatabahasa Latin-Yunani, yang mempunyai struktur khusus diterapakan begitu saja  kepada bahasa-bahasa lain. Sintaksis suatu bahasa haruslah merupakan perumusan dari berbagai macam gejala susun-peluk kata-kata dalam suatu bahasa. Bahwa nanti ada persamaan tatakalimat suatu bahasa dengan bahasa lain.
1)      Kata, Frasa, dan Klausa
            Tataran-tataran dalam bahasa dari yang kecil sampai paling luas beserta bidang ilmunya masing-masing adalah;
Bidang Ilmu         Tataran
Fonologi;               fon / fonem
                              Suku kata
Morfologi;             morfem;         terikat
                                                     bebas
                              kata;               dasar
                                                     turunan /  jadian
sintaksis;                frasa
                              klausa
                              kalimat
wacana;                 alinea
                              bagian (sejumlah alinea)                                                                                       
                              anak bab
                              bab
                              karangan yang utuh (terdiri dari bab-bab)

            Semua  unsur di atas merupakan unsur segmental,  yaitu unsur-unsur yang dapat dibagi-bagi menjadi bagian atau segmen-segmen yang lebih  kecil. Di samping unsur segmental, terdapat juga unsur suprasegmental, yang kehadirannya tergantung dari unsur-unsur segmental. Unsur suprasegmental mulai hadir dalam tataran kata sampai wacana: nada, tekanan keras, panjamg, dan intonasi.
Dengan demikian, kata merupakan suatu unsur yang dibicarakan dalam morfologi, sebaliknya frasa dan klausa berdasarkan strukturnya termasuk dalam sintaksis.
            Frasa adalah suatu konstruksi yang terdiri dari dua kata atau lebih yang membentuk suatu kesatuan. Kesatuan itu dapat menimbulkan suatu makna baru yang sebelumnya tidak ada. Misalnya dalam frase rumah ayah muncul makna baru yang menyatakan milik, dalam frase rumah makan terdapat pengertian baru ‘untuk’, sedangkan frasa obat nyamuk terdapat makna baru ‘untuk memberantas’.
            Klausa adalah suatu konstruksi yang di dalamnya terdapat beberapa kata yang mengandung hubungan fungsional, yang dalam tatabahasa lama dikenal dengan pengertian subjek, predikat, objek, dan keterangan-keterangan. Sebuah klausa setidak-tidaknya mengandung satu subjek, satu predikat, dan secara fakultatif satu objek; dalam hal-hal tertentu klausa terdiri dari satu predikat dan boleh dengan keterangan (bentuk impresional).

2)      Kalimat
           Syarat bagi suatu kalimat yaitu; kesempurnaan dalam tanggapan yang harus dinyatakan  dengan kelengkapan bentuk. Kesempurnaan dan kelengkapan yang dipakai disini adalah kelengkapan dan kesempurnaan system linguistik, bukan kesempurnaan dan kelengkapan falsafah.

A.    Batasan Kalimat Tatabahasa Tradisional
            Kalimat adalah satuan kumpulan kata terkecil yang mengandung pikiran yang lengkap. Kesempurnaan merupakan keharmonisan antara bentuk dan tanggapan. Apabila tanggapan atau ide jauh lebih luas daripada bentuk dan ide. Dengan demikian, kalimat tidak sempurna apabila ide lebih luas daripada bentuk, atau bentuk tidak sesuai dengan pola, dan pola itu adalah:
      SubjekPredikatObjek
            Bagi ahli tatabahasa lama, pemikiran secara falsafah inilah memberikan dasar yang cukup kuat untuk menggolongkan bentuk-bentuk bahasa seperti di atas sebagai Kalimat Tidak Sempurna.
B.     Batasan Kalimat
            Dapatlah kita merumuskan batasan kalimat sebagai berikut:
      Satuan bagian yang diawali dan diikuti kesenyapan sedangkan intonasinya menunjukkan bahwa bagian ujaran itu sudah lengkap.
            Pembatasan bidang tutur antara kesenyapan dengan kesenyapan penting sekali, karena secara formal itulah merupakan batas-batas yang dengan tegas dapat kita tangkap dalam suatu arus ujaran. Ujaran yang ditujukan, direalisasi sebagai suatu kontinuum, sebagai suatu arus yang terus-menerus mengalir, dengan  diikuti oleh kesenyapan-kesenyapan. Kalimat  yang diungkapkan oleh seseorang dengan secara langsung mencakup beberapa segi, yaitu (1) bentuk ekspresi (segmental), (2) intonasi (suprasegmental), (3) makna atau arti, (4) situasi. Bentuk ekspresi diwujudkan oleh kata atau rangkaian kata-kata yang diikat oleh tatasusun yang dimiliki oleh tiap-tiap bahasa, sedangkan tatasusun mencakup bidang sintasisnya. Intonasi meliputi bidang suprasegmentalnya atau disebut ciri-ciri prosidi. Hubungan tatasusun kata-kata, intonasi, dan situasi akan menentukan makna dari tutur itu. Situasi akan sebaliknya akan menyebabkan kita memilih kata-kata yang tertentu, memilih susunan kata yang tertentu, serta mempergunakan intonasi tertentu pula.     
C.     Kontur
            Kontur adalah suatu bagian dari arus ujaran yang diapit oleh kesenyapan, yakni kesenyapan awal dan kesenyapan akhir atau kesenyapan final. Kesenyapan awal adalah kesenyapan yang mendahului bagian suatu arus ujaran, sedangkan kesenyapan akhir atau kesenyapan final adalah kesenyapan yang mengakhiri suatu tutur. Di samping itu terdapat juga suatu arus ujaran dapat timbul pemberhentian sementara yang berlangsung dalam suatu waktu yang pendek di tengah-tengah, disebut kesenyapan antara atau kesenyapan non-final. Dengan demikian, dapat dibagi bermacam-macam kontur berdasarkan kesenyapan-kesenyapan yang mengapitnya, yaitu; (1) kontur yang diapit oleh kesenyapan awal dan kesenyapan final, (2) kontur yang diapit oleh kesenyapan awal dan kesenyapan non-final, (3) kontur yang diapit oleh kesenyapan non-final dan kesenyapan non-final, (4) kontur yang diapit oleh kesenyapan non-final dan kesenyapan final.
3)      Macam-macam Kalimat
Dengan mempergunakan dasar-dasar kesenyapan dan intonasi dapat kita membagi kalimat dari yang bermacam-macam segi tinjauan.

A.    Kalimat minim lawan kalimat panjang
            Pada prinsipnya, bagian dari kalimat itu dapat juga membentuk satu kalimat lagi. Kalimat ada yang biasaa dipecahkan atas kontur-konturnya dan ada juga yang tidak dapat. Pemecahan atas kontur-kontur itu secara potensial terdiri atas kata-kata yang dapat memasuki satu kalimat tersendiri. Sedangkan ada kata yang tidak bisa memasuki satu kalimat. Hal inilah yang menjadi ciri dari kalimat minim dan kalimat panjang. Kalimat minim adalah kalimat yang tidak dapt dipecahkan atas kontur-kontur yang lebih kecil lagi, sedangkan kalimata panjang adalah kalimat yang secara potensial dapat dipecahkan lagi atas kontur-kontur yang lebih kecil.
B.     Kalimat minor lawan kalimat mayor
            Pembedaan kalimat atas kalimat minim dan kalimat panjang merupakan hasil tinjauan dari segi kontur. Tetapi bukan hanya dari segi ini saja dapat kita teliti dari hakekat sebuah kalimat, misalnya melihat adanya unsur-unsur pusat yang membina kalimat itu. Berdasarkan hakekat bentuk kata, kata-kata dapat dibagi atas empat macam, yaitu; kata benda, kata kerja, kata sifat, dan kata tugas. Kata tugas fungsinya pertama-tama untuk memperluas sebuah kalimat. Sebab itu wujud sebuah kalimat yang paling kecil dalam kalimat mayor haruslah terbentuk dari ketiga jenis kata yang lain. Wujud dari gabungan yang paling minim  sebagai inti dari suatu kalimat mayor haruslah selalu terdiri dari dua unsur. Jenis kalimat mayor yang hanya terdiri dari dua unsur pusat disebut Kalimat Inti, untuk mempertentangkannya di satu pihak dengan Kalimat Luas, yaitu kalimat yang mengandung dua unsur pusat disertai satu atau lebih unsur tambahan lannya. Di lain pihak, Kalimat Inti dibedakan dengan Kalimat Transformasional, yaitu perubahan dari struktur-struktur kalimat inti menjadi suatu struktur yang baru. Perubahan susunan kalimat inti, perubahan intonasi kalimat inti juga termasuk dalam kalimat transformasional, walaupun terdiri dari dua unsur pusat.     
4)      Hakekat Kalimat Inti
            Syarat menentukan suatu kalimat mayor sebagai kalimat inti atau tidak, syarat pertama adalah mengenai tata-urut kata-katanya. Urutan kata-katanya haruslah merupakan urutan yan biasa terdapat pada kalimat-kalimat netral, tanpa intonasi yang istimewa.

A.    Pola-pola Kalimat
Kedua unsur inti yang membina kalimat mayor atau kalimat inti disebut inti kalimat.  Inti kalimat dari suatu kalimat mayor atau kalimat luas selalu akan dipulangkan kepada salah satu dari ketiga macam Kalimat Inti di atas.

B.     Interelasi unsur-unsur Kalimat
a)      Interelasi dalam pola I
Interelasi unsur-unsur kalimat yang membentuk Pola Kalimat I dapat kita bagi atas dua macam hubungan; yakni hubungan pelaku dan perbuatan dan hubungan penderita atau perbuatan. Misalnya:             a. hubungan pelaku dan perbuatan
                                  Adik menangis.
                                  Anjing menggonggong.
                             b. hubungan penderita dan perbuatan
                                 
                                  Anjing dipukul.
                                  Tanah digali.
Hubungan pertama menyatakan bahwa Kata Benda menjadi pelaku dari tindakan atau perbuatan yang didukung oleh Kata Kerja yang mengikutinya, sedangkan Kata Kerja menjadi perbuatan atau tindakan yang dilakukan oleh Kata Benda tadi. Hubungan yang kedua  menjelaskan bahwa Kata Benda bukan menjadi pelaku tetapi menjadi penderita, atau menderita atau menanggung akibat/ hasil suatu tindakan atau perbuatan, sedangkan Kata Kerja menunjukkan tindakan atau perbuatan yang dilakukan terhadap Kata Benda. Kata atau kumpulan kata dalam kalimat yang mendukung 
b)      Interelasi dalam pola II
Kata sifat dalam Pola II  mempunyai fungsi untuk menjelaskan bagaimana kualitas atau sifat dari Kata Benda di depannya. Sebab itu Kata Benda sebagai antagonismenya kata sifat, mempunyai fungsi untuk diterangkan atau dijelaskan oleh kata sifat itu. Tentu saja hubungan Kata Kerja dan Kata Benda dalam Pola I juga menerangkan dan diterangkan tetapi sifat menerangkan dalam Pola II agak berlainan. Kata Kerja menerangkan tentang tindakan atau perbuatan, sedangkan dalam Pola II Kata Sifat menjelaskan tentang sifat dan kualitas Kata Benda.  
c)      Interelasi dalam pola III
Di sini fungsi Kata Benda yang kedua itu menggolongkan Kata Benda yang pertama ke dalam suatu golongan yang dinyatakan oleh kata yang kedua. Kata pertama dengan sendirinya mempunyai fungsi untuk digolongkan dalam golongan yang disebut dalam kata kedua. Atas dasar ini, kata-kata yang berfungsi dalam Pola III disebut Gatra digolongkan  dan Gatra penggolong.
5)      Hakekat Gatra
            Dalam mengalami perluasan, gatra-gatra itu membutuhkan suatu kata atau kelompok kata yang khusus. Gatra perbuatan dapat diperluas dengan menambhkan kelompok kata dengan + kata sifat, gatra menerangkan dapat diperluas dengan kata-kata amat, sekali, lebih, sedangkan gatra penggolong dapat diperluas dengan kelompok kata yang + kata sifat.
            Perincian fungsi-fungsi ini menyebabkan penempatan gatra-gatra yang sebelumnya hanya disebut subjek dan predikat, ke dalam fungsi-fungsi yang lebih terperinci.

SINTAKSIS II
KALIMAT TUNGGAL

Batasan Kalimat Tunggal
            Kalimat Tunggal muncul dalam pertentangan dengan Kalimat Majemuk. Dalam menentukan Kalimat Tunggal dan Kalimat Majemuk pola kalimat memiliki peranan yang sangat penting. Kalimat Luas mencakup Kalimat Tunggal dan Kalimat Majemuk, dengan catatan bahwa tidak semua Kalimat Tunggal adalah Kalimat Luas.
            Kalimat yang mengandung satu pola kalimat, sedangkan perluasannya tidak lagi membentuk pola kalimat yang baru maka kalimat semacam itu disebut dengan Kalimat Tunggal. Kalimat tungggal adalah kalimat yang hanya terdiri dari dua unsur inti dan dapat diperluas dengan satu atau lebih unsur-unsur tambahan; dan unsur-unsur tambahan itu tidak membentuk pola baru. Semua kalimat inti termasuk dalam pengertian Kalimat Tunggal, sedangkan sebagian dari Kalimat Luas juga termasuk Kalimat Tunggal.

1.   Transformasi Kalimat
            Transformasi kalimat adalah proses mengubah satu kalimat inti. Caranya bermacam-macam;  dengan mengubah tata-urut gatra-gatra inti, dengan mengubah intonais netral menjadi intonais penekanan, intonasi perintah, atau dengan memperluas kalimat inti tersebut dengan dengan unsur-unsur tambahan yang lain.
            Apabila dalam membangun bermacam-macam ide, harus memilh dua jalan atau  mengungkapkan gagasan –gagasan itu  secara terpisah-pisah dalam kalimat-kalimat yang tersendiri atau mempersatukannya dalam satu perpaduan. Bila hal pertama yang terjadi terdapat bentuk kalimat yang bersifat analitis, sedangkan bila cara kedua yang dipakai maka kalimat out bersifat sintesis. Dalam memilh cara yang kedua, yaitu menggabungkan bermacam-macam gagasan, harus mempergunakan suatu metode untuk mengubah bentuk-bentuk itu, yang masing-masing  mendukung suatu gagasan tertentu ke dalam suatu bentuk perpaduan.
            Transformasi adalah suatu proses mengubah bentuk bahasa menjadi bentuk-bentuk lain, baik dari bentuk yang kompleks ke bentuk yang sederhana.

A)  Teknik Transformasi I
            Untuk menjelaskan pengertian dan teknik trasformasi ini, akan  berhadapan beberapa gagasan yang mempunyai kedudukan dan kepentingan yang berbeda-beda.
1.      Ada satu gagasan inti: Ali memukul anjing.
2.      Di samping itu terdapat beberapa gagasan tambahan, misalnya;
a.       Waktu terjadinya perbuatan itu; kemarin.
b.      Alat yang dipakai untuk memukul, yaitu; tongkat.
Persoalan yang kita hadapi sekarang adalah bagaimana menggabungkan ketiga gagasan itu? Penggabungan gagasan inti dengan gagasan waktu dapat terjadi dengan merangkaikan.
       I.      1. Saya memukul kepala anjing kemarin, atau
      2. Kemarin saya memukul anjing.
        Tetapi penggabungan gagasan inti dengan gagasan alat tidak bisa terjadi dengan cara di atas yaitu sekedar merangkaikan saja gagasan-gagasan itu. Di sini kita memerlukan lagi satu alat bahasa untuk menghubungkan gagasan-gagasan itu yaitu kata tugas dengan, sehingga hasil transformasi akan menjadi: 
    II.      1. Saya memukul anjing dengan tongkat, atau
      2. Dengan tongkat saya memukul anjing.
      Proses di atas belum lagi selesai sebab tujuan terakhir adalah merangkaikan ketiga gagasan itu. Sekarang akan kita gabungkan semua hasil transformasi di atas, atau mengadakan transformasi tingkat III.
  1. Saya memukul anjing kemarin.
     2. Saya memukul anjing dengan tongkat.
Hasilnya:    a. saya memukul anjing kemarin dengan tongkat.
                    b. saya memukul anjing dengan tongkat kemarin.

B)  Teknik transformasi II
           Teknik transformasi dapat berlangsung secara atas satu gagasan inti dengan gagasan-gagasan tambahan, teknik ini dapat dipergunakan juga untuk merangkaikan beberapa gagasan inti. Pengggabungan kedua kalimat  menimbulkan hubungan kausal. Sebab itu diperlukan satu alat bahasa yang sesuai dengan situasi itu untuk merangkaikan kedua gagasan itu. Alat yang sesuai dengan situasi itu adala kata tugas yang menyatakan sebab: karena, sebab, dan sebab itu. 
2.   Macam-Macam Kalimat Tunggal
           Berdasarkan macamnya kalimat tunggal dapat digolongkan atas;
a.    Kalimat berita
b.   Kalimat Tanya
c.    Kalimat perintah

A)  Kalimat berita
     Kalimat berita adalah kalimat yang mendukung suatu pengungkapan peristiwa atau kejadian. Hal yang disampaikan secara langsung, yakni langsung mengucapkan tutur orang lain, atau menyampaikan secara tidak langsung dengan pengolahannya sendiri. Sebab itu, kalimat berita dapat bersifat ucapan langsung atau ucapan tidak langsung.
     Ciri-ciri formal yang dapat membedakan kalimat berita dari macam-macam kalimat berita dari macam kalimat yang lain hanyalah intonasinya yang netral, tidak ada suatu bagian yang dipentingkan dari bagian yang lain. Susunan kalimat tidak dapat dijadikan ciri-ciri karena susunannya hampir sama saja dengan susunan kalimat lain.
B) Kalimat tanya        
     Kalimat Tanya adalah kalimat yang mengandung suatu permintaan agar kita dibeitahu sesuatu karena kia tidak mengetahui sesuatu hal. Ciri-cirinya sebagai berikut:
a. Intonasi yang digunakan adalah intonasi tanya.
b. Sering mempergunakan tanda tanya.
c. Mempergunakan partikel tanya –kah.
     Kata-kata tanya yang biasa digunakan dalam sebuah kalimat tanya, dapat digolongkan berdasarkan sifat dan maksud pertanyaan.
a.    Menanyakan tentang benda dan hal; apa, dari apa, untuk apa, dan sebagainya.
b.   Menanyakan tentang manusia; siapa, dari siapa.
c.    Menanyakan tentang pilihan atas beberapa hal atau barang; mana
d.   Menanyakan tentang jumlah; berapa.
e.    Menanyakan tentang tempat; di mana, ke mana, dari mana.
f.    Menanyakan tentang waktu; bila, bilamana, kapan, apabila.
g.   Menanyakan tentang keadaan dan situasi; bagaimana, betapa.
h.   Menanyakan tentang sebab; mengapa, apa sebabnya,
     Pada umumnya semua kalimat tanya menghendaki jawaban atas pertanyaan yang disampaikan. Pertanyaan retoris tidak membutuhkan jawaban atas pertanyaan yang disampaikan, biasa dipakai dalam pidato-pidato atau percakapan-percakapan lain, pendengar sudah dianggap mengetahui jawabannya. Ada pula semacam pertanyaan lain yang sebenarnya sama nilainya dengan perintah, karena yang mengajukan pertanyaan sudah mengetahui jawaban atas pertanyaannya.
C) Kalimat perintah
     Kalimat perintah adalah kalimat yang digunakan untuk menyuruh orang lain melakukan sesuatu yang kita kehendaki.sebab itu perintah meliputi suruhan yang keras hingga ke permintaan yang sangat halus. Suatu perintah dapat berbalik dari menyuruh berbuat sesuatu. Makna mana yang didukung oleh kalimat perintah tersebut, tergantung pula dari situasi yang dimasukinya.
     Karena itu kita dapat membagi kalimat perintah menjadi:
a.    Perintah biasa
b.   Permintaan, dalam permintaan sikap orang yang menyuruh lebih merendah.
c.    Ijin, memperkenankan seseorang untuk berbuat sesuatu.
d.   Ajakan;
e.    Syarat adalah semacam perintah yang mengandung syarat untuk terpenuhnya suatu hal.
f.    Cemooh atau sindiran adalah perintah yang mengandung ejekan, karena kita yakin bahwa yang diperintah tidak akan melakukannya.
g.   Larangan, adalah semacam perintah yang mencegah berbuat sesuatu.    
Ciri-ciri suatu kalimat perintah :
a.    Intonasi keras (terutama perintah biasa dan larangan)
b.   Kata kerja yang mendukung isi perintah itu biasanya merupakan kata dasar.
c.    Mempergunakan partikel pengeras –lah.





SINTAKSIS III
 KALIMAT MAJEMUK

Batasan Kalimat Majemuk
            Kalimat-kalimat yang mengandung dua pola kalimat atau lebih adalah kalimat majemuk. Dua pola kalimat yang terkandung dalam sebuah kalimat majemuk itu terjadi karena penggabungan dua macam pola kalimat atau lebih menjadi suatu kalimat tetapi dengan mempergunakan teknik perluasan.
Kalimat majemuk adalah kalimat tunggal yang bagian-bagiannya diperluas sedemikian rupa, sehingga perluasan itu membentuk satu atau lebih pola kalimat yang baru di samping pola yang sudah ada. Kalimat majemuk adalah penggabungan dari dua kalimat tunggal atau lebih sehingga kalimat yang baru ini mengandung dua pola kalimat atau lebih.
 Kedua pembatasan tersebut ditinjau dari sejarah pembentukannya, tanpa memperhatikan proses terjadinya.
1.   Macam-Macam Kalimat Majemuk
            Sifat hubungan pola-pola kalimat dalam sebuah kalimat majemuk dapat bersifat:
a.       Sederajat (koordinatif), kedudukan pola kalimat sama tinggi, tidak ada pola-pola kalimat yang menduduki suatu fungsi dari pola yang lain.
b.      Bertingkat (subordinatif), hubungan antara pola-pola kalimat tidak sederajat, karena ada pola kalimat yang menduduki suatu fungsi dari pola yang lain.
c.       Campuran, hubungan antara pola-pola kalimat itu dapat sederajat dan bertingkat. Hubungan ini terjadi apabila kalimat majemuk terdapat paling kurang 3 pola kalimat, sehingga misalnya terdapat dua pola kalimat yang sederajat, yang lain bertingkat atau dengan kata lain ada dua pola kalimat yang menduduki tingkat yang lebih tinggi sedangkan yang lainnya menduduki tingkat yang lebih rendah, atau sebaliknya. 

A)     Kalimat Majemuk Setara
            Apabila hubungan antara kedua pola kalimat sederajat maka terdapatla kalimat majemuk setara. Hubungan setara itu dapat diperinci lagi menjadi:
1.      Setara menggabungkan, pengggabungan itu dapat terjadi dengan merangkaikan dua kalimat tunggal dengab diantarai kesenyapan antara atau dirangkaikan  dengan kata-kata tugas seperti: dan, lagi, sesudah itu, karena itu.
2.      Setara memilih: kata tugas yang dipakai untuk menyatakan hubungan ini adalah: atau.
3.      Setara mempertentangkan : kata-kata tugas yang dipakai dalam hubungan ini adalah: tetapi, melainkan, dan hanya.

B)     Kalimat majemuk bertingkat
            Kalimat majemuk bertingkat adalah kalimat yang hubungan pola-polanya tidak sederajat. Salah satu pola menduduki fungsi tertentu dari pola yang lain. Bagian yang lebih tinggi kedudukannya disebut induk kalimat, sedangkan bagian yang lebih rendah kedudukannya disebut anak kalimat. 
C)    Kalimat majemuk campuran
            Kalimat majemuk campuran dapat terdiri dari sebuah pola atasan dan sekurang-kurangnya dua pola bawahan, atau dua  pola atasan dan satu atau lebih pola bawahan.
2.       Hubungan Antara Induk Kalimat Dan Anak Kalimat
            Hubungan antara induk kalimat dan anak kalimat hubungan yang lebih tinggi dan yang lebih rendah, tetapi bagimana kedudukan anak kalimat itu terhadap gatra-gatra dalam induk kalimat. Salah satu cara untuk membentuk kalimat majemuk itu adalah memperluas bagian-bagian kalimat tunggal, sehingga perluasan itu membentuk suatu pola kalimat yang baru. Hal ini berarti bahwa setiap gatra dapat diperluas sehingga dapat membentu satu anak kalimat.


































KALIMAT
Oleh : M. Ramlan

2.1. PENENTUAN KALIMAT.

        Bahasa terdiri dari dua lapisan, yaitu lapisan bentuk dan lapisan arti yang di nyatakan oleh bentuk itu. Bentuk bahasa terdiri dari satuan-satuan yang dapat dibedakan menjadi dua satuan, yaitu satuan fonologik dan satuan geramatik.Satuan fonologik meliputi fonem dan suku,sedangkan satuan geramatik meliputi wacana,kalimat,klausa,frase,kata,dan morfem. Dalam bab ini akan di bicarakan masalah alimat.
        Kalimat ada yang terdiri dari satu kata, misalnya: Ah!; kemarin;ada yang terdiri dari dua kata,misalnya:Itu toko;Ia mahasiswa;ada yang terdiri dari tiga kata, misalnya;Ia sedang membaca; Mereka akan berangkat;dan ada yang terdiri dari empat,lima dan enam kata dan seterusnya.Sesungguhnya yang menentukan satuan kalimat bukan banyaknya kata yang menjadi unsurnya,melainkan intonasinya. “Setiap satuan kalimat di batasi oleh adanya jeda panjang yang di sertai nada akhir turun dan naik”.Untuk menjelaskannya, di bawah ini di berikan contoh sebagai beriut:
Beberapa hari Bapak termenung-menung saja.Ia tidak berangkat ke kantor,juga tidak lagi mencangkul di ladang.Untunglah,ibu tidak berlari-lari.Ibu hanya diam di rumah saja,hanya kadang-kadang tertawa atau menangis.Ah,Ibu. Badanku  menjadi kurus.Sudah tiga hari aku sudah tidak masuk sekolah.Ocehan kawan-kawan sangat menyayat hatiku.Siapa yang membawanya? Sekarang tugasku hanya menunggu ibu di rumah, sedang bibik ikut membantu memasukan lauk, tetapi sering pula bibik ikut menunggu ibu dan membiarkan ia bermain main sendiri di tamannya yang kecil.
Kalau diperhatikan orang mengucapkan tuturan diatas, jelas dapat didengar adanya penggalan – penggalan atau jeda yang bertingkat – tingkat : ada yang pendek, misalnya antara kata beberapa dan hari, antara kata hanya dan termangu – mangu, dan antara kata termangu – mangu, dan kata saja; ada yang sedang, misalnya antara frase beberapa hari dan kata bapak, antara kata bapak dan frase hanya termangu – mangu saja; dan ada yang panjang serta dan disertai nada akhir turun atau naik. Jeda panjang yang disertai nada akhir turun terdapat sesudah orang mengucapkan saja, ladang, berlari – lari, ib, kurus, hatiku, sekolahku, dan kecil, sedangkan jeda panjang yang disertai nada akhir naik terdapat sesudah orang mengucapkan membawanya. Jadi berdasarkan intonasinya, ialah berdasarkan adanya jeda panjang yang disertai nada akhir turun atau naik, tuturan di atas terdiri dari sebelas satuan kalimat, yaitu :
c.    beberapa hari bapak hanya termangu – mangu saja.
d.   ia tidak berangkat kekantor, juga tidak lagi mencangkul di ladang.
e.    untunglah ibu tidak berlari – lari.
f.    ibu hanya diam dirumah saja hanya kadang – kadang tertawa atau menangis.
g.    Ah, Ibu.
h.    badanku menjadi kurus.
i.     sudah tiga hari aku tidak masuk sekolah.
j.     ocehan kawan – kawan sangat menyayat hatiku.
k.    rupanya berita ini sudah sampai pula kesekolahku.
l.     siapa yang membawanya?
m.  sekarang tugasku hanya menunggu ibu dirumah, sedang bibi ikut membantu memasakkan lauk, tetapi sering pula bibi ikut menunggu ibu dan membiarkan idah bermain di tamannya.

        Dari uraian yang di atas, jelaslah bahwa yang dimaksud istilah kalimat disini adalah satuan dramatik yang dibatasi oleh adanya jeda panjang yang sertai nada akhir turun atau naik.


2.2. KALIMAT BERKALAUSA DAN KALIMAT TAK BERKLAUSA.

        Kalimat tadi pagi pegawai itu terlambat terdiri dari satu klausa, berbeda dengan kalimat selamat malam!, yang terdiri dari satuan yang bukan klausa. Demikianlah , berdasarkan unsurnya, kalimat dapat digolongkan menjadi dua golongan, yaitu kalimat berklausa dan kalimat tak berklausa.
(5) Kalimat berklausa ialah kalimat yang terdiri sari satuan yang berupa klausa: dalam tulisan ini klausa dijelaskan sebagai satuan gramatik yang terdiri dari subjek,dan prediket,di sertai objeb,pelengkap dan keterangan atau tidak.Dengan ringkas klausa ialah SP(O) (PEL) (KET).Tanda kurang menandakan bahwa apa yang terletak dalam kurung itu bersifat manasulia,maksudnya boleh ada,boleh tidak
(6) Lembaga itu menerbitkan majalah sastra.
(7) Bapak Gubernur besok pagi akan ke jakarta.
(8) Negara Indonesia berdasarkan poancasila.
        Kalimat-kalimat terdiri dari klausa lembaga itu menerbitkan majalah sastra, yang terdiri dari Subjek,ialah lebaga itu, P ialah menerbitan, dan O, ialah majalah sastra, “kalimat (3) terdiri dari klausa Bapak Gubernur besok pagi akan ke jakarta yang terdiri dari 5 : Bapak Gubernur, KET : Besok pagi dan P : akan kejakarta, “kalimat (4) terdiri dari klausa Negara Indonesia berdasarkan pancasila, yang terdiri dari S : Negara Indonesia, P : berdasarkan dari PEL : Pancasila
        Ada juga kalimat yang terdiri dari dua klausa atau lebih. Misalnya :
(4) Perasaan ini timbul dengan tiba – tiba tat kala kereta api mulai memasuki daerah perbatasan.
(5) Semua itu adalah miliknya, bahkan akupun menjadi miliknya bila aku turun kedarat.
(6) Tengah karmila menangis menghadapi tembok, bapak daud masuk diantar suster meta.

        Kalimat (5) terdiri dari dua klausa, yaitu perasaan ini timbul dengan tiba-tiba sebagai klausa pertama, dan kreta api memulai memasuki daerah perbatasan sebagai klausa kedua, Kalimat (6) terdiri dari tiga klausa, yaitu Semua itu adalah miliknya sebagai klausa pertama, akupun menjadi miliknya sebagai klausa kedua, dan aku turun kedarat sebagai klausa ketiga, sedangkan kalimat (7) terdiri dari empat klausa ialah Karmila menangis sebagai klausa pertama, (karmila) menghadapi tembok sebagai klausa kedua, Bapak Daud masuk sebagai klausa ketiga, dan (Bapak Daud) diantar suster meta sebagai klausa ke empat.
        Pada kalimat luas, yaitu kalimat yang terdiri dua klausa atau lebih sering terjadi penghilangan S, seperti yang terjadi pada kalimat (7) diatas. Kalimat (7) itu terdiri dari empat klausa. Klausa pertama merupakan klausa lengkap, terdiri dari SP, klausa kedua merupakan klausa lengkap, terdiri dari P diikuti O, klausa ketiga merupakan klausa lengkap, terdiri dari SP, dan klausa keempat merupakan klausa tak lengkap terdiri dari P diikuti KET. Jadi terjadi penghilangan S pada klausa kedua dan keempat.
        Demikian pula halnya pada kalimat tanya, kalimat jawaban, dan kalimat suruh, sering terjadi penghilangan S. Misalnya :
(7) A bertanya kepada B; “Sedang mengapa?”
     B menjawab ; “Sedang mengetik surat”.
     A berkata pula ; “Duduklah sebentar disini”.

        Terjadi penghilangan S pada kalimat diatas. Pada Kalimat sedang mengapa? Terjadi penghilangan kata engkau. Pada kalimat Sedang mengetik surat, terjadi penghilangan kata saya, dan pada kalimat Duduklah sebentar disini, terjadi penghilangan kata engkau.
        Kadang-kadang terjadi pula kehilangan P hingga klausa itu terdiri dari S diikuti O, PEL, KET, atau Tidak. Misalnya :
(8) Amin dan Ahmad pergi ke toko buku
     Amin membeli buku Al Jabar, ahmad buku Sejarah
        Kalimat tak berklausa ialah kalimat yang tidak terdiri dari klausa .Misalnya :
(9) Astaga!
(10)  Selamat malam!
(11)  Selamat belajar!
        Judul satu kekurangan juga merupakan sebuah kalimat karena selalu diakhiri dengan deja panjang yang disertai nada akhir turun atau naik. Jika terdiri dari SP (O) (PEL) (KET), kalimat judul itu termasuk golongan kalimat berklausa, Misalnya :
(12)  Tiga nama disebut-sebut sebagai calon Wali Kodya Yogya
(13)  Perjudian dan HO sudah tidak ada lagi.
(14)  Seratus orang tookoh islam akan menerima penjelasan.
        Kalimat (13) terdiri dari unsur fungsional S, diikuti P, diikuti KET. S-nya adalah tiga nama, P-nya disebut-sebut, dan KET-nya sebagai calon Wali Kodya Yogya. Kalimat (14) terdiri dari unsur fungsional S, diikuti p. S-nya adalah Perjudian dan HO, dan P-nya adalah sudah tidak ada lagi. Kalimat (15) terdiri dari S, diikuti P, diikuti O. S-nya adalah Seratus orang tokoh islam, P-nya adalah akan menerima, dan O-nya penjelasan. Akan tetapi, jika tidak terdiri dari klausa, kalimat judul itu tidak termasuk golongan.
        Kalimat berklausa. Misalnya :
(15)  Tantangan Pembangunan Ekonomi Indo.
(16)  Dua Bidang terlemah dalam pelaksanaan Transmigrasi.
(17)  Seorang pendeta dari kaki gunung wilis.
(18)  Polandia dan Doktrin Brezhuew.
        Yang semuanya berwujud frase.

2.3. KALIMAT BERITA, KALIMAT TANYA, DAN KALIMAT SURUH
       
        Apabila kita ucapkan kalimat Hari ini Ahmad akan pergi ke Surabaya kepada sesorang, maka tanggapan yang diharapkan ialah orang itu akan memperhatikan ucapan itu. Perhatian itu ditandai dengan pandangan mata yang menunjukkan adanya perhatian, kadang-kadang disertai anggukan dan mungkin disertai juga dengan ucapan-nya.
        Kalau kita mengucapkan kalimat Siapa nama saudara? kepada seseorang, maka tanggapan yang diharapakan berupa penjelasan tentang namanya sebagai jawaban, dan apabila kita mengucapkan kalimat Ambilkan buku yang ada di almari itu! kepada seseorang, maka tanggapan yang diharapkan adalah orang yang diajak berbicara itu akan melakukan perbuatan yang tersebut dalam kalimat itu.

2.3.1. KALIMAT BERITA
       
        Berdasarkan fungsinya dalam hubungan situasi, kalimat berita berfungsi untuk memberitahukan sesuatu kepada orang lain sehingga tanggapan yang diharapkan berupa perhatian seperti tercermin pada pandangan mata yang menunjukkan adanya perhatian. Kadang-kadang perhatian itu disertai anggukan, kadang-kadang pula disertai ucapannya.
        Kalimat berita memiliki pola notasi yang disebut pola notasi berita, yaitu [2] 3 // [2] 3 \ # dan [2] 3 // [2] 3 # apabila P-nya terdiri dari belakangnya bervokal /2/, seperti kata keras, cepat, kering, tepung, bekerja. Disamping itu, dalam kalimat berita tidak terdapat kata-kata tanya seperti mari, ayo, kata perpisahan silahkan, serta kata larangan jangan. Misalnya:
(19)  Menurut ilmu sosial konflik dapat terjadi karena penemuan-penemuan baru.
(20)  Jalan itu sangat gelap.
(21)  Belajarlah mereka dengan tekun.
        Kaimat (20), (21) dan (23) termasuk golongan kalimatberita karena ketiganya mempunyai pola notasi berita, dan dalam ketiga kalimat itu tidak terdapat kata-kata tanya, ajakan, perpisahan, dan larangan.
        Kalimat engkau harus berangkat sekarang juga, sekalipun tanggapan yang diharapkan oleh penuturnya berupa tindakan, namun kalimat tersebut termasuk golongan kalimat berita mengingat ciri-ciri formalnya yang berupa pola notasi berita dan tak adanya kata-kata tanya, ajakan, perpisahan, dan larangan. Demikian pula kalimat saya minta, engkau berangkat sekarang ini juga yang mengharapkan tanggapan yang berupa tindakan dan yang berdasarkan maknanya menyatakan suatu permintaan, disini termasuk golongan kalimat berita karena memiliki ciri-ciri formal kalmimat berita.

2.3.2. KALIMAT TANYA

        Kalimat tanya berfungsi untuk menanyakan sesuatu. Kalimat ini memiliki pola notasi yang berbeda dengan pola notasi kalimat yang berbeda dengan pola notasi kalimat berita. Perbedaanya terutama terletak pada nada akhirnya. Pola notasi kalimat berita bernada akhir turun, sedangkan pola notasi kalimat tanya bernada naik, disamping nada suku terakhir yang lebih tinggi sedikit dibandingkan dengan nada suku terakhir pola notasi kalimat berita. Pola notasinya ialah : [2] 3 // [2] 3 2 #. Disini pola notasi kalimat tanya itu digambarkan dengan tada tanya, misalnya :
(22)  Ahmad pergi ?
(23)  Anak-anak sudah bangun?
(24)  Ayahnya belum plang?
(25)  Murid itu masih belajar?
(26)  Orang itu tidak tidur?
(27)  Kakanya suka merokok?
        Kalimat-kalimat diatas berbeda dengan kalimat berita hanya karena notasinya. Kalimat-kalimat itu berpola notasi tanya, yaitu [2] 3 // [2] 3 2 #, sedangkan kalimat berita berpola notasi berita, yaitu [2] 3 // [2] 3 (1) #.
        Kata-kata kah, apa, apakah, bukan, dan bukanlah dapat ditambahkan pada kalimat tanya diatas. Kah dapat ditambahkan pada kalimat yang ditanyakan kecuali pada S. Disamping itu, ada kecenderungan untuk meletakkan bagian kalimat  yang ditanyakan itu diawal kalimat, misalnya :
(28)  Pergikah Ahmad ?
(29)  Sudah bangunkah anak-anak?
(30)  Sudahkah anak-anak bangun?
(31)  Belum pulangkah ayahnya?
(32)  Belumkah ayahnya pulang?
(33)  Masih belajarkah murid itu?
(34)  Masihkah murid itu belajar?
(35)  Tidak tidurkah orang itu?
(36)  Tidakkah orang itu tidur?
(37)  Suka merokokkah kakaknya?
(38)  Sukakah kakaknya merokok?
        Kah tidak dapat diletakkan dibelakang S, kalimat-kalimat (23-28) yaitu dibelakang Ahmad (23), anak-anak (24), ayahnya (25), murid itu(26), orang itu (27), dan kakaknya (28), hingga kalimat :
(39)  Ahmadkah pergi?
(40)  Anak-anakkah sudah bangun?
(41)  Ayahnyakah belum pulang?
(42)  Murid itukah masih belajar?
(43)  Orang itukah tidak tidur?
(44)  Kakaknyakah suka merokok?
Merupakan kalimat yang tak gramatik, jika perlukan penambahan kah pada unsur-unsur itu, maka di perlukan pula penambahan kata yang hingga kalimat-kalimat itu menjadi :
(45)  Ahmad yang pergi?
(46)  Anak-anakkah yang sudah tidur?
(47)  Ayahnyakah yang belum pulang?
(48)  Murid itukah yang masih belajar?
(49)  Orang itukah yang tidak tidur?
(50)  Kakaknyakah yang suka merokok?
        Akan tetapi, dengan demikian, unsur Ahmadkah (46), anak-anakkah (47), ayahnyakah (48), murid itukah (50), dan kakaknyakah (51), tidak lagi menduduki fungsi S, melainkan menduduki fungsi P, dan unsur-unsur lainnya menduduki fungsi S.

2.3.2.1. APA

        Kata tanya apa digunakan untuk menanyakan benda, tumbuh-tumbuhan, dan hewan, misalnya:
1.    Petani itu membawa apa?
2.    Arsitek itu sedang merencanakan apa?
3.    Dokter hewan itu memeriksa apa?
4.    Bapak guru mengajarkan apa?
5.    Anak itu melihat apa?
        Kata apa dalam kalimat (1-5) diatas dapat dipindahkan diawal kalimat. Jika demikian, kata kerja kalimat-kalimat itu diubah menjadi kata kerja pasif dan didahului kata yang hingga kalimat-kalimat itu menjadi :
6.    Apa yang dibawa petani itu?
7.    Apa yang sedang direncanakan arsitek itu?
8.    Apa yang diperiksa dokter hewan itu?
9.    Apa yang diajarkan Bapak guru?
10. Apa yang dilihat anak itu?
        Selain penggunaan diatas, kata tanya apa digunakan juga untuk menanyakan identitas, misalnya :
11. Anak itu membaca buku apa?
12. Ia menyaksikan pertandingan apa?
13. Itu anjing apa?
14. Gedung yang tinggi itu gedung apa?
        Kata apa disitu tidak dapat dipindahkan keawal kalimat karena kata itu membentuk satu frase dengan kata-kata buku, pertandingan, anjing, dan gedung, dan berfungsi sebagai atribut yang mempunyai letak yang tetap dibelakang unsur pusatnya.

2.3.2.2. SIAPA
        Kata tanya siapa digunakan untuk menanyakan Tuhan, Malaikat, dan manusia, misalnya :
(5) Nama anak itu siapa?
(6) Yang patut disembah siapa?
(7) Yang menulis surat itu siapa?
(8) Yang mencabut nyawa manusia itu siapa?
(9) Engkau mencari siapa?
(10)      Orang itu ingin bertemu dengan siapa?
(11)      Ini sepeda siapa?

2.3.2.3. MENGAPA
        Kata mengapa digunakan untuk menanyakan perbuatan, misalnya :
(3) Anak itu sedang mengapa?
(4) Pegawai itu mengapa?
(5) Orang itu akan mengapa?
        Partikel kah dapat ditambahkan pada kata-kata tanya diatas untuk lebih menegaskan pertanyaan sehingga disamping apa, siapa, mengapa, kenapa, bagaimana, mana, bilamana, kapan, bila, dan berapa terdapat apakah, siapakah, mengapakah, kenapakah, bagaimanakah, manakah, kapankah, bilakah, dan berapakah.

2.3.3. KALIMAT SURUH
        Berdasarkan fungsinya dalam hubungan situasi, kalimat suruh mengharapkan tanggapan yang berupa tindakan dari orang yang diajak berbicara. Berdasarkan ciri formalnya, kalimat ini memiliki pola notasi yang berbeda dengan notasi kalimat berita dan kalimat tanya. Pola notasinya adalah 2 3 # atau 2 3 2   , jika diikuti partikel lah pada P-nya, misalnya :
(3) Pergi!
(4) Pergilah!
(5) Baca buku itu!
(6) Bacalah buku itu!
Disini pola intonasi kalimat suruh itu di tandai dengan tanda /!/.
3. KLAUSA

3.1. PENGERTIAN KLAUSA

        Dimuka, pada nomor 2.2. telah dikemukakan bahwa kalimat ada yang terdiri dari unsur klausa dan ada yang terdiri dari unsur bukan klausa. Kalau disini dijelaskan sebagai satuan gramatik yang terdiri dari S P baik disertai O, PEL, dan KET ataupun tidak. Dengan ringkas, klausa adalah SP (O) (PEL) (ET). Tanda kurung menandakan bahwa apa yang terletak dalam kurung itu bersifat memasukkan, artinya boleh ada dan boleh juga tidak.

3.2. ANALISIS KLAUSA

        Klausa dpat dianalisis berdasarkan tiga dasar yaitu:
1.    Berdasarkan fungsi unsur-unsurnya.
2.    Berdasarkan katagori kata atau fase yang menjad unsurnya.
3.    Berdasarkan makna unsur-unsurnya.

3.2.1. Analisis Klausa Berdasarkan Fungsi Unsur-Unsurnya.
       
        Klausa terdiri dari unsur-unsur fungsional yang disini disebut S, P, O, PEL, dan KET. Kelima unsur tersebut memang tidak selalu bersama-sama ada dalam satu klausa.

3.2.1.2. O dan PEL
       
        P mungkin terdiri dari golongan kata verbal transitif, mungkin terdiri dari golongan kata verbal intransitif, dan mungkin pula terdiri dari golongan-golongan kata yang lain. Apabila terdiri dari golongan kata verbal transitif, diperlukan adanya O yang mengikuti P itu, misalnya :
1. Pemerintah akan menyelenggarakan pesta seni.
        Kalimat diatas terdiridari klausa Pemerintah akan menyelenggarakan pesta seni, yang terdiri dari tiga unsur fungsional, yaitu pemerintah sebagai S, unsur akan menyelenggarakan sebagai P, dan unsur pesta seni sebagai O, yang disini disebut O1. Disebut O1 karena ada kata verbal transitif yang menuntut hadirnya dua buah O sehingga disamping O1 terdapat O2.
Unsur yang menduduki fungsi KET ialah unsur dengan selampai putih yang terletak dibelakang sekali. Unsur tersebut dapat dipindahkan kedepan SP dan ke tempat diantara S dan P, menjadi :
1.    Dengan selampai putih wiradinata membersihkan kacamatanya.
2.    Wiradinata dengan selampai putih membersihkan kacamatanya.
       
- Unsur pengisi P menyatakan makna ‘keadaan’ dalam kalimat :
1.    Rambutnya hitam dan lebat.
2.    Rumah itu sangat bersih
3.    Lukanya membesar.
4.    Orang itu sangat sayang sama bintang.
        Kata-kata hitam, lebat, bersih, membesar, dan sayang semuanya tidak dapat digunakan untuk menjawab pertanyaan sedang mengapa dan diapakan, melainkan digunakan untuk menjawab pertanyaan bagaiama, rambutnya bagaimana?, rumah itu bagaimana?, lukanya bagaimana? Dan orang itu bagaimana?, karena itu kata-kata itu tidak menyatakan makna ‘perbuatan’, melainkan menyatakan makna ‘keadaan’.

- Unsur pengisi P menyatakan makna ‘keadaan’ dalam kalimat ;
Para tamu ada diruang depan.
        Kata ada yang menjadi unsur pengisi fungsi P tidak menyatakan makna ‘perbuatan’ dan ‘keadaan’ karena tidak menjawab pertanyaan. Sedang mengapa, diapakan, dan bagaimana, melainkan menyatakan makna ‘keberadaan’, menjawab pertanyaan dimana; dimana para tamu? Jawabnya; para tamu ada diruang depan.
Beberapa contoh, misalnya:
1.    Ahmad berada diruang baca
2.    Orang tua anak itu bertempat tinggal di luar kota.
3.    Pemetik daun the itu bertempat tinggal di daerah pegunungan.
4.    Mereka bermain di daerah pantai.

- Unsur pengisi P menyatakan makna ‘pengenal’ dalam kalimat :
1.    Orang itu pegawai kedutaan
2.    Gedung itu gedung sekolah
        Unsur pengisi P yang terdiri dari frase golongan N, yaitu pegawai kedutaan dan gedung sekolah, menyatakan ‘makna’ ‘pengenal’atau ‘identitas’, yakni ciri khas seseorang atau suatu benda yang menyebabkan orang atau benda itu mudah dikenal.

A. Klausa Positif
        Klausa positif ialah klausa yang tidak memiliki kata negatif yang secara gramatik menegatifkan P. Kata-kata negatif itu adalah tidak, tadi, tiada, bukan, belum, dan jangan, misalnya :
(5) Mereka diliputi oleh perasaan senang.
(6) Mertua itu sudah dianggapnya sebagai ibunya.
(7) Muka mereka pusut-pusut.
(8) Za eman akrab saya.

B. Klausa Negatif
        Klausa negatif ialah klausa yang memiliki kata-kata yang negaif yang secara gramatik menegatifkan P, seperti telah disebutkan diatas, kata-kata negatif itu adalah tidak, tak, tiada, bukan, belum, dan jangan.
        Berdasarkan artinya kata negatif ialah kata yang mengingkarkan kata lain, dan secara gramatik kata negatif itu di tentukan oleh adanya kata penghubung melainkan yang menuntut adanya kata negatif pada klausa yang mendahuluinya, misalnya ;
- Dia tidak langsung pulangm, melainkan berputar-putar dijalan Thamrin dan jalan Sudirman.

C. Penggolongan Klausa Berdasarkan Katagori Kata atau Frase yang Menduduki Fungsi P.

        Dimuka pada nomor 3.2.2. telah dikemukakan bahwa P mungkin terdiri dari kata atau frase golongan N, V, B, C, dan FD. Maka, berdasarkan golongan atau katagori kata atau frase yang menduduki fungsi P, klausa dapat digolongkan menjadi empat golongan, yaitu :
(3) Klausa Nominal
(4) Klausa Verbal
(5) Klausa Bilangan
(6) Klausa Depan

1.    Klausa Nominal ialah klausa yang P-nya terdiri dari kata ata frase golongan N misalnya :
(3) Ia guru
(4) Rumah-rumah itu rumah dinas Departemen Penerangan
(5) Mereka itu karyawan suatu perusahaan swasta di jakarta
(6) Yang dibeli orang itu sepeda
(7) Yang diperjuangkan kebenaran

2.    Klausa Verbal
        Klausa verbal ialah klausa yang P-nya terdiri dari kata atau frase golongan V, misalnya:
(2) Petani mengerjakan sawahnya dengan tekun
(3) Dengan rajin bapak guru memeriksa karangan murid
(4) Tanah persawahan di Delanggu subur
(5) Udaranya panas.
        Kata golongan V ialah kata yang pada tataran klausa cenderung menduduki fungsi P dan pada tataran frase dapat dinegatifkan dengan kata tidak. Misalnya kata-kata berdiri, gugup, menoleh, berhati-hati, membaca, tidur, subur dan sebagainya.
1.    Klausa Verbal Ajektif
        Klausa ini P-nya terdiri dari kata golongan V yang termasuk golongan kata sifat, atau terdiri dari frase golongan V yang unsur pusatnya berupa kata sifat, misalnya:
1. Tanah persawahan di Delanggu sangat subur
2. Udaranya panas sekali
3. Anaknya pandai-pandai
4. Harga bukunya sangat mahal.

2.    Klausa Verbal Intransitif
        Klausa ini P-nya terdiri dari kata kata verbal yang termasuk golongan kata kerja intransitif, atau terdiri dari frase verbal yang unsur pusatnya berupa kata kerja intransitif, misalnya:
1.    Batang-batang beterbangan diatas permukaan air laut.
2.    Anak-anak sedang bermain-main di teras belakang.
3.    Orang tua anak itu berada di luar negeri.

3.    Klausa Verba Aktif
        Klausa ini P-nya terdiri dari kata verba yang termasuk golongan kata kerja transitif, atau terdiri dari frase verbal yang unsur pusatnya berupa kata kerja transitif, misalnya:
1.    Arifin menghirup kopinya
2.    Za hanya menuntun skuternya
3.    Mula-mula ia mempelajari seni dan musik

4.    Klausa Verba Pasif
        Klausa ini P-nya terdiri dari kata verbal yang termasuk golongan kata kerja pasif, atau terdiri dari frase verbal yang unsur pusatnya berupa kata kerja pasif. Misalnya :
(5) Tepat dimuka pintu aku disambut oleh seorang petugas.
(6) Presiden dan Wakil Presiden dipilih oleh MPR untuk jangka waktu lima tahun.
(7) Semangat ini harus kita pelihara

5.    Klausa Verbal yang Refleksif
        Klausa ini P-nya terdiri dari kata verbal yang termasuk golongan kata kerja refleksif, yaitu kata kerja yang menyatakan ‘perbuatan’ yang mengenai ‘prilaku’ perbuatan itu sendiri. Pada umumnya kata kerja ini berbentuk kata kerja MeN- diikuti kata diri, misalnya :
(3) Orang itu beberpa waktu lamanya mengasingkan diri di tawangmangu.
(4) Ia tidak dapat lagi menahan diri.
(5) Seorang gadis menggantung diri dikamar pondok itu.

6.    Klausa Verbal yang Resiprokal
        Klausa ini P-nya terdiri dari kata verbal yang termasuk golongan kata kerja resiprokal, yaitu kata kerja yang menyatakan ‘kesalingan’ bentuknya ialah saling MeN, (saling) ber-an dengan proses pengulangan atau tidak, dan (saling) –MeN-, misalnya :
1.    Pemuda dan gadis itu saling berpandang-pandangan.
2.    Mereka saling memukul
3.    Anak-anak itu saling ejek-ejekan.

4. FRASE

1. PENGERTIAN FRASE
        Kalimat dua orang mahasiswa sedang membaca buku baru diperpustakaan terdiri dari satu klausa, yaitu dua orang mahasiswa sedang membaca buku baru di perpustakaan. Selanjutnya klausa itu terdiri dari empat unsur yang lebih rendah tatarannya, yaitu dua orang mahasiswa, sedang membaca, buku baru, dan diperpustakaan. Unsur-unsur itu ada terdiri dari dua kata, yakni sedang membaca buku baru dan diperpustakaan, dan ada yang terdiri dari tida kata, yaitu dua orang mahasiswa. Disamping itu, masing-masing unsur itu menduduki satu fungsi, dua orang mahasiswa menduduki fungsi S, sedang membaca menduduki fungsi P, buku baru menduduki fungsi O, dan di perpustakaan menempati fungsi KET. Demikianlah unsur klausa yang terdiri dari dua kata atau labih yang tidak mempunyai batas fungsi itu merupakan satuan gramatik yang disebut frase, jadi frase ialah satuan gramatik yang terdiri dari dua kata atau lebih yang tidak melampaui batas fungsi unsur klausa. Beberapa ciri, misalnya :
(8) Gedung sekolah itu
(9) Yang sedang membaca
(10)                      Akan pergi
(11)                      Sakit sekali
        Dari batasan diatas dapatlah dikemukakan bahwa frase mempunyai dua sifat, yaitu:
1.    Frase merupakan satuan gramatik yang terdiri dari dua kata atau lebih.
2.    Frase merupakan satuan yang tidak melebihi batas fungsi unsur klausa, maksudnya frase itu sealalu terdapat satu fungsi, unsur klausa, yaitu S, P, O, PEL dan KET.

2. FRASE INDOSENTRIK DAN EKSOSENTRIK
        Frase dua orang mahasiswa dalam klausa dua orang mahasiswa sedang membaca buku baru di perpustakaan mempunyai distribusi yang sama dengan unsurnya, baik dengan unsur dua orang, maupun dengan unsur mahasiswa. Persamaan distribusi itu dapt dilihat dari jajaran dibawah ini :
Dua orang mahasiswa sedang membaca buku baru di perpustakaan.

3. Frase Endonsentrik yang Koordinatif    
        Frase ini terdiri dari unsur-unsur yang setara kesetaraannya itu dapat dibuktikan oleh kemungkinan unsur-unsur itu dihubungkan dengan kata penghubung dan atau, misalnya :
1.    Rumah perkarangan
2.    Suami istri
3.    Dua tiga (hari)
4.    Ayah ibu

4. Frase Endonsentrik yang Atributif
        Beberapa dengan frase endonsentrik yang koordinatif, frase golongan ini terdiri dari unsur-unsur yang tidak setara, karena itu, unsur-unsurnya tidak mungkin dihubungkan dengan kata penghubung dan atau, misalnya :
1.    Pembangunan lima tahun
2.    Sekolah inpres
3.    Buku baru
4.    Pekarangan luas

5. Frase Endonsentrik yang Apositif
        Dalam klausa ahmad, anak pak sastro, sedang belajar, satuan ahmad, anak pak sastro juga merupakan frase. Frase ini memiliki sifat yang berbeda dalam frase endonsentrik yang koordinatif dan artibrutif. Dalam frase endonsentrik yang koordinatif unsur-unsurnya dapat dihubungkan dengan kata penghubung dan atau atau, dan frase endonsentrik yang artributif unsur-unsurnya tidak dapat dihubungkan dengan kata penghubung dan atau atau dan secara semantik ada unsur yang terpenting yang lebih penting dari unsur lainnya.













\


KALIMAT
Oleh : Samsuri

Perhatikan kalimat berikut ini!

(3) Pertempuran itu mulai pagi-pagi ketika ahmad dengan ibunya menuju kepasar, sementara ayahnya melangkahkan kaki membawa lembunya kesawah sambil memanggul bajak.

1.    Perempuan itu mulai waktu pagi-pagi
2.    Ahmad dan ibunya sedang menuju ke pasar
3.    Ayahnya melangkahkan kaki
4.    Ayahnya membawa lembunya ke sawah
5.    Ayahnya memanggul bajak
6.    Petani yang rajin itu tidak mengerti peperangan
7.    Peperangan itu telah membakar dunia ini selama tiga tahun.
8.    Ahmad murid sekolah dasar
9.    Ahmad tak pernah mendapat keterangan dari gurunya
10. Ibunya tak pernah mendapat keterangan dari gurunya
11. Ibunya tak pernah menghiraukan keadaan dunia
12. Beberapa tembakan berdentuman
13. Ibu ahmad terkejut
14. Mukanya pucar sekali
15. Ibu ahmad segera menahan langkahnya
        Kelima belas kalimat diatas itu dihubungkan yang sat dengan yang lain oleh kata-kata seperti ketika, sementara, sambil, dan serta sehingga merupakan kesatuan pengertian yang luas.    
        Sekarang marilah kita lihat kalimat (1) diatas itu dan mencoba menganalisisnya satu demi satu. Setelah selesai kita melihat kelima belas kalimat itu kita sampai kepada kesimpulan bahwa kalimat-kalimat itu tidak disusun sebagai satu kata ditambah sebuah kata yang lain, melainkan disusun sebagai kelompok-kelompok kata yang merupakan untaian. Diagram (2,a) dan (2,b) itu merupakan sejarah derivasi (1,a) dan (1,b), dan masing-masing sejarah derivasi itu penanda frase.
        Sejarah derivasi kedua kalimat itu dapat pula dinyatakan dengan mempergunakan garis condong merupakan penggalan kedua, dan seterusnya. Dengan begitu semua kalimat
-      Permpuan itu / mulai // waktu pagi-pagi
-      Ahmad dan ibunya / sedang menuju // kepasar
-      Ayahnya / melangkahkan kaki
-      Ayahnya / membawa lembunya // kesawah
-      Ayahnya / memanggul bajak.

        Didalam kata-kata bersuku dua tanpa pepet, dialek indo mempunyai pola intonasi  yang sama, yaitu # 3 1 #. Kata yang bersuku dua dengan pepet disuku pertama, menunjukkan pola # 3 1 #, sedangkan yang lain menunjukkan beberapa misal pola diatas ini ialah seperti
1.           # 3 1 #                       # 2 3 #
                Meja                          Tebu
               Nama                          Jemu
               Kuda                         Gema
               Pacar                         Mesra
              Tukang                       Senang
                Gula                         Jenjang
              Barang                      Bentang
              Kacang                     Kendang
              Kantor                      Rendang
              Jantung                       Bernas

        Didalam kata-kata yang bersuku dua, baik dengan maupun tanpa pepet, dengan tambahan akhirannya, semua dialek itu menunjukkan pola intonasi yang sama, yaitu # 2 3 1 #. Didalam kata-kata yang bersuku dua, dengan pepet dengan suku pertama, dengan tambahan akhiran lah, semua dialek itu menunjukkan pola intonasi yang sama, yaitu # 2 3 1 # juga. Pada kata-kata  yang tanpa pepet, ada yang menunjukkan pola # 2 3 1 # tetapi ada juga yang menunjukkan pola lagu kalimat # 3 2 1 #, seperti pada contoh berikut ini :
        Sebagai ilustrasi pola-pola kalimat BI, kami akan memberikan contoh-contoh yang sederhana, tetapi sistematis, sehingga dengan begitu pola-pola intonasi kalimat-kalimat yang panjang pun dapat disusun berdasarkan pola-pola kalimat sederhana itu. Untuk keperluan itu, pola-pola intonasi itu kami bagi menjadi (1) pola pola dasar, (2) Pola-pola tambahan, dan (3) pola-pola transformasi. Pola-pola dasar berupa intonasi kalimat-kalimat dasar, yang panjangnya sangat terbatas pola-pola tambahan merupakan pola-pola intonasi memasukkan, artinya dapt terdapat pada kalimat-kalimat dasar itu, dapat pula tidak. Adapun pola-pola transformasi boleh dikatakan penggabungan antara pola-pola dasar dengan atau tanpa pola-pola tambahan. Ada beberapa pola  intonasi yang memang khusus untuk mentrasnformasikan pola-pola dasar menjadi pola-pola transformasi, sehingga dengan begitu sebenarnya ada empat macam pola intonasi pada BI.

TIPE-TIPE KALIMAT DASAR
        Setelah kita memahami gatra-gatra yang menjadi paduan-paduan kalimat, sekarang tibalah saatnya untuk meneliti kalimat-kalimat suatu bahasa berdasarkan gatra-gatra yang menjadi paduan-paduannya. Dengan kata lain akan menyelidiki kemungkinan penggabungan gatra-gatra itu menjadi kalimat-kalimat. Sebagai contoh marilah kita ambil kalimat-kalimat sebagi berikut :
(4) Celananya itu baru dril
(5) Sipamin sekarang memakai baju
(6) Pakaian itu baru sekali
(7) Nasi sepiring itu untuk anaknya
(8) Anggota panitia itu sepuluh orang.

        Dari kalimat-kalimat diatas kita dapat mengambil kesimpulan dengan menentukan gatra-gatra yang menjadi panduan-panduan kalimat itu, ada beberapa macam kalimat dasar di dalam BI. Kita ambil kalimat (28,a) dan kita ketahui panduan-panduannya ialah frasa-frasa celananya itu, sebuah gatra benda, sedangkan kain dril merupakan gatra benda. Dengan begitu kita dapat mencatat bahwa tipe kalimat itu ialah GB1 + GB2 perlu diketahui bahwa angka arab diatas tanda-tanda itu yang memang berbeda 1 yang menunjukkan bahwa gatra-gatra  benda itu berbeda bentuknya.
        Sudah barang tentu kalimat (28,a) ini sangat sederhana dan masih banyak paduan-paduan tambahan yang bersifat memasukkan, artinya mungkin terdapat tetapi mungkin pula tidak, yang tidak akan mengubah pengertian dasar dari pada kalimat itu, melainkan hanya menambah beberapa informasi belaka. Tamba-tambahan paduan semacam itu mungkin sebagai berikut:
a.    Celananya itu rupanya kain dril
b.    Celananya itu mungkin kain dril
c.    Celananya itu seyogianya kain dril saja
d.   Celananya itu agaknya kain dril kemarin
e.    Celananya itu harus kain dril disekolah.
















Tidak ada komentar:

Poskan Komentar